Senin, 14 Oktober 2013

Resensi Novel Laskar Pelangi

Kekuatan Nasib dan Takdir
Oleh Fistari Ertanida (XI SIA 3)

Judul Buku      :  Laskar Pelangi
Penulis            :  Andrea Hirata
Penerbit          :  Bentang Pustaka, Yogyakarta, Oktober 2008.
Tebal               :  xiv + 534
Harga              :  Rp 69.000,00




Dinegeri ini tak mudah menulis novel – novel yang kesemuanya best seller, apalagi merupakan karya – karya pertama dan ditulis oleh seseorang yang tak berasal dari lingkungan sastra. Tapi hal itu dapat dilakukan Andrea Hirata. Seorang penulis pendatang baru, yang lahir pada tanggal 24 Oktober 1982 di pulau Belitong, Sumatera Selatan. Penulis dengan latar belakang sebagai mahasiswa jurusan Ekonomi dari Universitas Indonesia ini menulis novelnya dengan gaya realis. Andrea Hirata, tak dikenal sebelumnya, Ia tak pernah menulis sepotong cerpen pun, namun tiba-tiba muncul dengan menulis tetralogi yang mampu menghipnotis banyak orang.  Novel lanjutan dari tetralogi laskar pelangi yaitu Sang Pemimpi, Edensor dan  Maryamah Karpov.

Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, buku Laskar Pelangi menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin di pulau Belitong. Anak orang-orang pinggiran yang mencoba memperbaiki masa depan mereka dengan bersekolah di sekolah Islam Muhammadiyah Belitong. Disekolah itu mereka dibimbingan oleh dua orang guru yang berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan yaitu Ibu Mus dan Pak Harfan sang Kepala Sekolah.

Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah membuka pendaftaran murid baru. Sekolah tua ini harus menerima 10 murid sebagai syarat dari Depdikbud Sumsel jika masih ingin tetap berdiri. Namun, hanya ada 9 murid yang mendaftar saat itu. Tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Sehingga sekolah tidak jadi ditutup dan kesepuluh anak ini bersekolah disini.

Itulah awal kisah pertemuan mereka. Sekolah Muhammadiyah adalah sekolah islam tempat orang-orang tidak mampu di Belitong bersekolah. Sekolah ini sudah sangat tua dan juga kondisinya yang sudah dimakan zaman membuat sekolah ini hampir mirip seperti kandang sapi. Selain itu, sekolah ini juga tidak memiliki fasilitas yang memadai. Tidak seperti sekolah PN Timah, sekolah kaya yang sangat bagus dengan fasilitas yang lengkap dan mahal. Mereka yang bersekolah di sekolah PN Timah hanyalah anak–anak orang kaya dan petinggi–petinggi di PN Timah. Sekolah Muhammadiyah tidak menuntut murid–muridnya untuk membayar SPP tapi sekolah Muhammadiyah hanya di bayar secara sukarela oleh masyarakat, karena sebab itulah murid–murid yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hal itu dapat dilihat pada kesepuluh anggota laskar pelangi yaitu Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek (Samson), Trapani, dan Harun yang semuanya berasal dari keluarga kurang mampu. Untunglah walaupun sekolah Muhammadiyah sangat jelek, tetapi ada sesuatu yang sangat berharga didalamnya, yaitu ibu muslimah Hafsari. Beliau adalah pengajar pertama laskar  pelangi. Beliau jugalah yang memberikan nama laskar pelangi kepada kesepuluh muridnya itu. Hal ini dikarenakan kesenangan para anggota laskar pelangi terhadap pelangi. Setiap hujan reda mereka selalu berkumpul bersama di pohon filicum untuk menunggu muculnya pelangi. Kemudian Pak Harfan Efendi Noor, beliau adalah kepala sekolah Muhammadiyah. Beliau adalah orang yang sangat baik,  bijaksana dan sangat taat terhadap ajaran – ajaran agama. Mereka, para anggota laskar pelangi bersekolah di sekolah ini mulai dari kelas 1 SD sampai tamat SMP.

Pohon filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka, membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi ilmunya kepada anggota laskar pelangi lainnya. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis keturunan tionghoa A Ling. A Ling adalah cinta pertama Ikal. Namun pada akhirnya mereka tidak bisa bersatu karena A Ling harus pergi ke Jakarta untuk menemani bibinya yang hidup sendirian.

Laskar pelangi sempat mengharumkan nama sekolah Muhammadiyah dengan berbagai cara. Misalnya saja pembalasan dendam Mahar karena selalu dipojokan dan diremehkan oleh teman – temannya dengan menunjukkan bakatnya dalam bidang seni yang  telah mengalahkan sang juara bertahan, yaitu sekolah PN Timah dengan menampilkan tarian asal Afrika dan membuahkan sebuah kemenangan pada karnaval 17 Agustus. Selain itu seorang anak genius Lintang yang mempertaruhkan nyawanya dengan mengayuh sepeda sepanjang 80 kilometer pulang pergi dari rumahnya hanya untuk menuntut ilmu disekolah Muhammadiyah. Lintang berhasil menyangkal bantahan dari Drs. Zulfikar saat perlombaan cerdas cermat. Drs. Zulfikar adalah guru sekolah kaya PN yang sudah terkenal kepintarannya. Berkat Lintang, sekolah Muhammadiyah berhasil memenangkan lomba cerdas cermat itu. Laskar pelangi telah melewati hari – harinya dengan tangis dan tawa dalam berbagai kejadian.

Suatu ketika anggota Laskar pelangi bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan dari sekolah PN Timah. Flo adalah anak perempuan tomboy yang berhasil ditemukan saat tersesat di gunung berkat kenekatan Mahar memasuki daerah terlarang. Kemudian cerita dilanjutkan dengan  petualangan Societiet De Limpai yaitu kelompok yang tergila-gila terhadap alam gaib. Kelompok ini terdiri dari 11 anggota, diantaranya adalah Mahar sang ketua, Flo, dan Ikal yang terjebak sebagai sekretaris. Misi berharga mereka adalah pergi ke pulau Lanun untuk menemui tokoh idola mereka Tuk Bayan Tula sang dukun sakti. Mereka kesana meminta agar Mahar dan Flo lulus ujian dan nilai rapotnya tidak merah. Mereka berangkat dengan mempertaruhkan nyawa melawan ombak dan badai ditengah laut.

Cerita masa kecil mereka diakhiri dengan kepergian ayah Lintang yang mengakibatkan Ia  berhenti sekolah empat bulan sebelum tamat SMP. Lintang harus bekerja menggantikan ayahnya untuk menafkahi 14 anggota keluarganya. Perpisahan Lintang dihari terakhirnya bersekolah diiringi deraian air mata para sahabatnya dan Ibu Mus yang tak rela melihat cita – cita sang jenius ini untuk menjadi ilmuwan matematika terkubur hanya karena masalah ekonomi.

Anak – anak laskar pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing. Tapi siapa tahu tentang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan dan juga kehancuran PN Timah yang dulu adalah kota megah dengan segala kemewahan didalamnya, sekarang berubah menjadi kota mati yang telah di porak porandakan masyarakat yang di PHK karena harga timah merosot sangat drastis pada saat itu.

Buku ini berhasil memotret fakta dan ironi dunia pendidikan di Negara kita yang memprihatinkan. Kemampuan deskripsi Andrea yang sangat detail terhadap setiap karakter pelakunya merupakan salah satu keunggulan buku ini. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang diselipkan sang penulis pada kalimat-kalimatnya, merenung, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi yang memiliki semangat juang yang tinggi untuk memperoleh pendidikan.

Andrea yang memiliki wawasan luas dan pemahaman tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan sastra berhasil menyajikan kenangannya menjadi serangkaian cerita yang menarik. Menggabungkan pengalaman masa kecil dengan  imajinasinya yang fantastik dan pilihan kata yang indah. Itu lah yang membuat novel ini terasa unik dan beda dari novel lainnya. Menjadikan novel ini sebuah karya sastra yang jenius, religius sekaligus inspiratif dan menggugah jiwa pembacanya.

Kelemahan novel ini, menurut saya terletak pada banyaknya penggunaan kata dengan majas metafora sehingga pembaca membutuhkan waktu sedikit lama untuk menerka maksud dari kalimat tersebut. Begitu juga dengan waktu, Andrea menggambarkan kisah-kisahnya secara melompat-lompat dari kisah satu ke kisah berikutnya tanpa kejelasan waktu yang pasti. Kelemahan lainnya juga terletak pada cara mengakhiri cerita, yang lebih bagus jika novel ini ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan tentang kejatuhan PN Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi akhir cerita yang membingungkan karena “Aku” secara tiba- tiba menjadi orang lain, dan bukan Ikal sang Penulis.

 Novel ini wajib di baca bagi generasi muda yang terlena dengan berbagai kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib dibaca bagi para pendidik dan para petinggi negara yang terkadang sering mengenyampingkan urusan pendidikan. Kini dapat kita lihat dampaknya, kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas. Selain itu, buku ini juga bisa memberi motivasi kepada pembacanya untuk tidak mengenal kata menyerah dan putus asa walaupun terkadang kenyataan itu pahit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar